Senin, 10 Maret 2014

Satuan dalam Perkapalan

SATUAN-SATUAN KAPAL

1. VOLUME DISPLACEMENT (Displasemen Volume)
            Volume displacement adalah volume air yang dipindahkan badan kapal yang terbenam di dalam air. Dengan catatan, volume displacement atau displasemen volume dengan tanpa tebal kulit, tebal lunas dan tonjolan-tonjolan misalnya daun kemudi, baling-baling dan lain-lain dinamakan juga Isi Karene. Jika seluruh bagian tersebut di atas ikut dihitung disebut dengan Volume displacement penuh. Volume displacement biasanya dinotasikan dengan V.

            Gambar 5.1. Bagian kapal yang terbenam di dalam air
            
V = L x B x T x Cb……(m³),    dimana :
                        L    : panjang kapal
                        B    : lebar kapal
                        T    : sarat kapal
                        Cb : koefisien blok
2. DISPLACEMENT (Displasemen Berat), ∆
            Displacement adalah berat  air yang dipindahkan oleh badan kapal di dalam air. Kalau misalnya Volume displacement adalah V dan berat jenis air dinyatakan dengan ρ, maka :
                        ∆ = V x ρ
                        ∆ = L x B x T x Cb x ρ…….(ton)

MENGHITUNG VOLUME DISPLACEMENT (Metode Simpson)

            Gambar 4.12. Menghitung volume displacement

Cara menghitung sebagai berikut :
- Berdasarkan panjang Lpp, digunakan luas station-station.
- Bagian kapal sepanjang Lpp dinamakan Main Part sedangkan bagian dibelakang AP dinamakan Cant Part.
- Sepanjang Lpp dibagi dengan station sesuai jarak ordinat pada aturan Simpson (h).
- Dicari luas penampang tiap station ( misalkan A0, A1, A2, A3 dan A4 ).
- Bagian cant part dibagi dua, dengan jarak ordinat h’ misal = xh, dicari luas penampang A-2=0 , A-1 dan A0 (= A0 main part ).
- Dihitung volume kapal seluruh, main part dan cant part, dengan aturan Simpson mengunakan satu tabel. Harga x pada jarak ordinat h’ dimasukkan pada factor Simpson.
Cara mencari luas penampang station :
Station -1 :      A-1 = 2 x 1/3 h-1. Σ Y.s
Station 0  :       A0  = 2 x 1/3 h0. Σ Y.s
Station 1  :       A1  = 2 x 1/3 h1. Σ Y.s
Station 2  :       A2  = 2 x 1/3 h2. Σ Y.s
Station 3  :       A3  = 2 x 1/3 h3. Σ Y.s

Tabel perhitungan volume displacement & letak titik tekan memanjang LCB
No. Station
Luas station
(A)
Faktor
Simpson (s)
A.s
Lengan dari
St.2 (n)
Momen statis (A.s.n)
-2
A-2
1x
A-2. 1x
-(2+2x)
-A-2.1x(2+2x)
-1
A-1
4x
A-1. 4x
-(2 + x)
-A-1. 4x(2+x)
0
A0
1x + 1
A0. (1x +1)
-2
-A0. (1x +1).2
1
A1
4
A1. 4
-1
-A1. 4 . 1
2
A2
2
A2. 2
0
0
3
A3
4
A3. 4
1
A3. 4 . 1
4
A4
1
A4. 1
2
A4. 1 . 2



Σ A.s

± Σ A.s.n
Volume displacement (V) = 1/3 h . Σ A.s   (m³)
Letak titik tekan memanjang terhadap st.2 (LCB)
LCB = h . (± Σ A.s.n / Σ A.s)  (m)
Note : LCB (+) berarti sebelah kanan st.2 dan (–) sebelah kiri st.2


3. BERAT KAPAL SELURUH (= Berat Pemindahan Air)
 
 
 
            Adalah berat air yang dipindahkan oleh badan kapal secara keseluruhan. Pada saat kapal terapung seimbang maka berat air yang dipindahkan oleh badan kapal di dalam air (Δ) sama dengan gaya tekan ke atas (buoyancy) (ρV) sama dengan berat kapal seluruh (W). Jadi jika berat jenis air dinyatakan dengan ρ, maka :
                        W (= Δ ) = V x ρ        
Hukum Archimedes mengatakan bahwa setiap benda yang dimasukkan ke dalam air, benda tersebut mendapat gaya tekan ke atas (vertikal) sebesar berat zat cair yang dipindahkan dalam keadaan setimbang.
            Demikian pula halnya dengan sebuah kapal yang terapung di atas air akan mendapat gaya tekan vertikal ke atas sebesar berat air yang dipindahkan oleh badan kapal tersebut. Jadi, dalam hal ini gaya tekan ke atas tersebut adalah berat pemindahan air.
            Sesuai pula dengan hukum Archimedes tersebut, maka besarnya pemindahan air akan sama dengan berat kapal itu sendiri (berat kapal seluruhnya : W). Dalam hal berat kapal, sama dengan berat kapal kosong ditambah dengan bobot mati (dead weight) atau dapat dituliskan :
                        W = DWT + Berat kapal kosong (LWT)
Titik tekan dari gaya ke atas yang merupakan titik berat dari volume badan kapal yang terletak di bawah permukaan air disebut :
-      Longitudinal Centre of Buoyancy (titik tekan gaya ke atas memanjang) untuk arah memanjang.
-      Vertical Centre of Buoyancy (titik tekan gaya ke atas melintang) untuk arah tegak.

Titik berat dari kapal :
-      untuk arah memanjang disebut Longitudinal centre of gravity.
-      Untuk arah melintang disebut Vertical centre of gravity.
            Harus diingat bahwa gaya berat kapal bekerja pada arah vertikal ke bawah, sedangkan displacement merupakan gaya tekan yang bekerja dalam arah vertikal ke atas.

4. BOBOT MATI (DEAD WEIGHT), DWT
 
 
            Bobot mati adalah daya angkut dari sebuah kapal dimana termasuk berat muatan, bahan bakar, minyak pelumas, air minum, bahan makanan, berat crew (anak buah kapal) dan penumpang beserta barang-barang yang dibawanya. DWT satuannya dalam Ton.
            Berat muatan adalah jumlah berat seluruh muatan yang diangkut. Berat bahan bakar adalah jumlah berat bahan bakar yang dipakai dalam pelayaran, dimana jumlahnya tergantung pada Daya (PK) mesin, kecepatan kapal itu sendiri dan jarak pelayaran yang ditempuh.
            Kecepatan yang digunakan dalam hal ini adalah kecepatan dinas, yaitu kecepatan rata-rata yang dipakai dalam dinas pelayaran sebuah kapal dan dinyatakan dalam, knot dimana 1 knot = 1 mil laut per jam. 1 knot = 1852 m/h = 0,5144 m/dt.

5. BERAT KAPAL KOSONG (LWT)
 
 
 
            Adalah berat kapal yang dihitung dari 3 bagian besar, yaitu :
1)      Berat badan kapal :
Yaitu : berat struktur baja badan kapal, bangunan atas (superstructure) dan rumah geladak (deck house).
Secara singkat, bangunan atas (superstructure) adalah bangunan di atas deck yang meliputi seluruh lebar kapal. Untuk bagian depan kapal disebut dengan Forecastle, bagian tengah disebut Anjungan (Bridge) sedangkan dibagian belakang disebut Kimbul (Poop). Sedangkan bangunan atas yang tidak meliputi seluruh lebar kapal dinamakan dengan Rumah Geladak (Deck House).
2)      Berat peralatan geladak :
            Yaitu : berat dari seluruh peralatan antara lain jangkar, rantai jangkar, mesin jangkar, tali-temali, capstan, mesin kemudi, mesin winch, derrick boom, tiang mast, ventilasi, tangga, alat navigasi, life boat, david, cat, perlengkapan dan peralatan dalam kamar-kamar dan lain-lain.
3)      Berat permesinan :
            Yaitu : berat motor induk (main engine), motor bantu (auxiliary engine), ketel, pompa-pompa, kompressor, separator, botol angin, cooler, intermediate shaft (poros antara), propeller (baling-baling), shaft propeller, bantalan-bantalan poros, reduction gear dan keseluruhan peralatan yang ada di kamar mesin.
Berat kapal kosong satuannya dalam Ton.

6. VOLUME / KAPASITAS RUANG MUAT
            Ruang muatan di dalam kapal barang biasanya dibedakan dalam tiga bagian ruangan, yaitu :
- ruang muatan cair (liquid cargo tank)
- ruang muatan dingin (refrigerated cargo hold)
- ruang muatan kering (dry cargo hold)
Macam-macam volume atau kapasitas ruang muatan pada umumnya dibedakan dalam 3 macam, yaitu :
- Gross cargo capacity : kapasitas ruang muat yang direncanakan (jadi tidak termasuk pengurangan konstruksi gading-gading/frame).
- Grain cargo capacity : kapasitas muatan curah.
Yaitu : kapasitas ruang muatan biji-bijian atau tanpa pembungkusan tertentu.
- Bale cargo capacity : kapasitas muatan karung.
Yaitu : kapasitas ruang muatan dalam pembungkusan tertentu misalnya dalam karung, kotak, drum dan lain-lain.
Pada grain cargo capacity, muatan biji-bijian (curah) dapat mengisi bagian celah-celah antara konstruksi di dalam ruang muatan (misalnya celah-celah antara gading-gading/frame). Sedangkan pada bale cargo capacity, karena muatan dibungkus dalam pembungkusan tertentu dan tidak bisa mengisi ruang antara celah-celah konstruksi dan disamping itu antara muatan satu dengan yang lainnya juga terdapat bagian-bagian yang kosong.
            Pada umumnya, harga grain cargo capacity lebih besar dibandingkan bale cargo capacity. Volume / kapasitas ruang muatan sangat tergantung pada jenis barang/muatan yang diangkut. Dengan kata lain, tergantung dari spesifik volume atau stowage factor jenis barang yang diangkut. Setiap barang yang dikapalkan mempunyai standart nilai spesifik volume atau stowage factor sendiri-sendiri. Spesifik volume adalah besarnya ruangan dalam m³ atau ft³ yang diperlukan untuk menyimpan suatu jenis barang tertentu seberat 1 metric ton. Kapal barang normal pada umumnya mempunyai harga spesifik volume antara 1,3 – 1,7 m³/ton.

Jenis barang
Stowage Factor
Cara pem-
bungkusan
Jenis barang
Stowage Faktor
Cara pem-
bungkusan
1. Anggur
2. Apel
3. Beras
4. Barang2  
    didlm klg
5. Jagung
6. Gandum
7. Garam
8. Gula
9. Kapas
10.Kapuk
11.Kacang
1,5
2,5
1,4

1,35-1,4
1,5
1,4
1,1 - 1,6
1,3 - 1,4
1,5 - 2,4
1,6
1,6
Kotak
Kotak
Karung

Kotak
Karung
Karung
Karung
Karung
Bal
Bal
Karung
12. Kopi
13. Kopra
14. Pupuk
15. Semen
16. Teh
17. Temba
       kau
18. Tepung
19. Cat
20. Bier
21. Wool di
       pres
1,7-2,5
1,1-1,5
0,8
0,9
2,8-3,3

3,3
1,4
1,0
1,66

3,0
Karung
Karung
Sak
Sak
Peti

Bal
Sak
Kaleng
Barrel

Bal

Khusus untuk muatan biji-bijian (curah) tambang dan biji tumbuh-tumbuhan mempunyai harga spesifik volume seperti berikut ini :
            Biji Besi          : 0,8
            Biji Nikel         : 0,8
            Biji Mangan    : 0,6
            Biji Tembaga : 0,4 – 0,6
            Biji Phosphat : 0,85 – 0,9
            Biji Gandum   : 1,24
            Biji Batubara : 1,2 – 1,3
            Biji Belerang   : 0,8
            dll..

7. TONASE (TONNAGE)
 
 
 
            Kapal dalam fungsinya sebagai alat angkut yang dipergunakan dalam kegiatan ekonomi, maka tentulah dikenakan pajak-pajak serta memerlukan biaya sehubungan dengan kegiatannya itu. Dapat dimaklumi bahwa makin besar sebuah kapal, akan makin besar pula pajak-pajak serta ongkos-ongkos yang harus dikeluarkannya. Dalam perkembangan selanjutnya, bukan saja pajak pelabuhan didasarkan atas besarnya tonase ini melainkan juga ongkos pengedokan, penundaan beberapa persyaratan keselamatan pelayaran didasarkan pula atas besarnya tonase kapal.
Jadi fungsi tonase kapal adalah :
-  Untuk menunjukkan ukuran besarnya kapal, yaitu kapasitas muatnya.
-  Bagi pemerintah, adalah untuk dasar pegangan atau acuan dalam memungut pajak diantaranya adalah pajak pelabuhan sebagai imbalan atas pelayanan yang telah diterima kapal tersebut.
-  Bagi pemilik kapal, adalah untuk memperkirakan pendapatan maupun pengeluaran (pajak-pajak dan ongkos-ongkos) yang harus dikeluarkan pada kala waktu tertentu.
-  Tonase dipergunakan pula sebagai batasan-batasan terhadap berlakunya syarat-syarat keselamatan kapal ataupun beberapa syarat lainnya.
-  Di galangan / dock kapal, tonnage banyak digunakan sebagai pedoman dalam menetapkan tarif docking dan reparasi kapal.

a) Macam-macam Tonase
            Untuk pengukuran tonase dipakai register tonnage. Ada 2 macam register tonnage :
1. BRT (Bruto Register Tonnage) / Gross Tonnage (GT) : Isi kotor
GT (Isi kotor) adalah ukuran volume dari seluruh bagian kapal.
2. NRT (Netto Register Tonnage) / Net Tonnage (NT) : Isi bersih
NT (Isi bersih) adalah ukuran volume dari kapal yang berguna (menghasilkan pendapatan)


Gambar 5.2. Gross Tonnage dan Net Tonnage

            Tonase adalah suatu besaran volume, karena itu satuannya adalah satuan volume dimana 1 RT (satuan register) menunjukkan suatu ruangan sebesar 100 ft³ atau 1/0,353 m³ atau sama dengan 2,8328 m³.

b) Perhitungan Gross Tonnage & Net Tonnage
Gross Tonnage (BRT), dari sebuah kapal ditentukan dengan rumus :
            GT = K1 . Vtot ,      dimana :
            Vtot     =  volume total dari semua ruangan-ruangan
                             tertutup dalam kapal (m³)
             K1      =  0,2 + 0,02 . log Vtot

Net Tonnage (NT) dari sebuah kapal ditentukan dengan rumus :
            NT = K2 . VC (4d/3D)² + K3 . (N1 + N2/10),   dimana :
            K2 = 0,2 + 0,02 . log VC
            K3 = 1,25 . [(GT + 10.000)/10.000]
            VC = volume total dari ruang muat (m³)
D   = moulded depth ditengah-tengah kapal (m), diukur dari bagian atas pelat
         lunas hingga sisi bawah geladak pada sisi tepi geladak
            d    = moulded draught ditengah-tengah kapal (m)
            N1 = jumlah penumpang-penumpang dalam kabin, yang tidak
                     lebih dari 8 tempat tidur
            N2 = jumlah penumpang yang lain

            N1 dan N2 (jumlah) adalah jumlah total penumpang dalam kapal yang diizinkan untuk diangkut sesuai yang tercantum dalam Sertifikat kapal penumpang. Jika N1 + N2 < 13, maka N1 dan N2 diambil sama dengan 0 (nol). GT diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus.
            1. Faktor (4d/3D)² tidak boleh diambil lebih dari 1.
            2. K2 . VC (4d/3D)² tidak boleh kurang dari 0,25 GT.
            3. NT tidak boleh kurang dari 0,3 GT.
Moulded draught d diambil salah satu dari ketentuan di bawah ini :
-  Untuk kapal yang mengikuti peraturan lambung timbul, sarat air sesuai Garis Musim Panas S (kecuali kapal pengangkut kayu).
-  Untuk kapal penumpang, sarat air yang berhubungan dengan garis muat terdalam sesuai peraturan the Safety of Life at Sea (SOLAS).
-  Untuk kapal yang tidak menerapkan peraturan lambung timbul, tetapi menerapkan persyaratan nasional, maka sarat air adalah pada batas Garis Muat Musim Panas S.
-  Untuk kapal tanpa garis muat tetapi sarat air ditentukan berdasar persyaratan nasional, dipakai sarat maksimumnya.
-  Untuk kapal lainnya, dipakai 75 % moulded depth di tengah kapal.

Sebagai contoh perhitungan sederhana :
Sebuah kapal tipe container ship dengan ukuran :
Lpp = 135,0 m,           LOA = 146,0 m          B = 21,27 m               
H = 12,20 m                T     = 7,06 m               Cb   = 0,57
Diketahui volume lambung kapal, fore castle, superstructure dan ruang lainnya adalah 30.900 m³ dan volume ruang muat yang ada di kapal adalah 18.550 m³. Hitunglah Displacement, Volume displacement, Gross tonnage dan Net tonnage kapal tersebut !
Jawab :
Displacement (Δ ) dan Volume Displacement (V) :
Δ          = V x ρ ,   dimana :
ρ          = massa jenis air laut = 1,02587 ton/m³  dan
V         = Lwl x B x T x Cb
Lwl tidak ditentukan, diambil sekitar 3% lebih panjang dari Lpp :
            Lwl = Lpp + 3%.Lpp = 139,05 m,  ambil Lwl = 139,0 m
Sehingga : V = 139 m x 21,27 m x 7,06 m x 0,57
                              V = 11.897,67 m³  dan
                             Δ  = V x ρ
                             Δ  = 11.897,67 m³ x 1,02587 ton/m³
                             Δ  = 12.205,5 ton

Gross tonnage (GT) dan Net tonnage (NT) :
GT = K1 . Vtot, dimana :
K1 = 0,2 + 0,02 . log Vtot = 0,2 + 0,02 . log (30900) = 0,29
GT = 0,29 x 30900 = 8961
NT = K2 . VC (4d/3D)² + K3 [N1 + (N2/10)]
Karena jumlah crew kapal (N1) & penumpang lain (N2) tidak
ditentukan, kita ambil N1 dan N2 nol.
Sehingga:
VC = 18.550 m³
K2 = 0,2 + 0,02 log (18550) = 0,285
(4d/3D)² = 0,595
K3 = 0
Jadi :  NT = 0,285 x 18550 x 0,595 = 3145,6

c) Bentuk Tonnage Mark

                        Gambar 5.3. Tonnage mark

            Bentuk dari tonnage mark adalah berupa sebuah garis horizontal yang disebut baseline (garis dasar) dan panjang 15 inchi atau 380 mm dan tebal 1 inchi atau 25 mm.
            Diatas baseline ini diletakkan secara terbalik suatu segitiga sama sisi, yang sisi-sisinya 12 inchi atau 300 mm dan tebalnya 1 inchi (25 mm). Puncak dari segitiga tadi adalah tepat terletak pada titik tengah dari base line. Pada tonnage mark ini ditambahkan juga sebuah garis horizontal lain yang menunjukkan sarat yang sama dengan baseline akan tetapi yang berlaku untuk sarat tropis air tawar. Garis horizontal tambahan ini panjangnya 9 inchi atau 230 mm dengan tebal 1 inchi atau 25 mm.
 
 
 
Semoga Ilmunya bermanfaat :)

0 komentar: